Blogger Widgets
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA- SEMOGA ARTIKEL-2NYA DAPAT BERMANFAAT BAGI ANDA- TERIMA KASIH
Showing posts with label History Islam. Show all posts
Showing posts with label History Islam. Show all posts

Saturday, 29 September 2012

Islam ada di Benua Amerika jauh sebelum Colombus


Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.
Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat
 pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.


Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)



Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

  
Sejarahnya panjang,
Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.
Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.


Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.
Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.
Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.
Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu..

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.
Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362).

 [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]
Sumber : CAHAYAIMAN


Saturday, 23 April 2011

Perang Uhud

Peperangan ini dimulai oleh orang kafir untuk melakukan balas dendam terhadap kekalahan mereka di Perang Badar, dimana tujuh puluh orang pemimpin terkemuka mereka terbunuh dan tujuh puluh orang lainnya ditangkap, sementara hanya empat belas orang Muslim yang mati syahid.

Orang kafir terdiri dari tiga ribu orang tentara, tiga ribu ekor unta dan dua ratus ekor kuda. Juga terdapat lima belas orang wanita didalam angkatan perang ini yang bertindak sebagai pemandu sorak atau pemberi semangat. 

Angkatan perang kaum Muslim pada awalnya hanya terdiri dari seribu orang tentara. Ketika pasukan Muslim mendekati gunung Uhud, Abdullah bin Obey, dan kepala orang munafik, tiba-tiba meninggalkan angkatan perang kaum Muslim dan kembali ke Madinah dengan para pengikut yang tiga ratus orang. Bapaknya Jaber mengingatkan mereka akan tugas mereka kepada Allah SWT tetapi mereka tidak mendengarkannya. Allah SWT menerangkan tentang orang munafik ini di dalam Ali Imran 167.

dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. 

Akhirnya dua angkatan perang berhadapan satu sama lain di dekat gunung Uhud. Nabi SAW mengatur strategi peperangan dengan sempurna dalam penempatan pasukannya. Beberapa orang pemanah ditempatkan pada suatu bukit kecil untuk menghalang majunya musuh. Pada awalnya musuh menderita kekalahan. Sehingga banyak dari para pemanah Muslim meninggalkan pos-pos mereka untuk mengumpulkan barang rampasan. Musuh mengambil kesempatan ini dan menyerang angkatan perang Muslim dari arah bukit ini. Banyak dari kaum Muslim yang mati syahid dan bahkan Nabi SAW mengalami luka yang sangat parah. Orang kafir merusak mayat-mayat kaum Muslim dan menuju Makkah dengan merasa suatu kesuksesan.

Rincian Peperangan

Marilah kita lihat kembali sedikit peristiwa peperangan ini ketika sekitar beberapa ratus kaum Muslim memerangi tiga ribu orang kafir yang jauh lebih banyak.
Pada awalnya Zubair bin Awwam RA, Saad bin Abi Waqas RA, Asim bin Tsabit RA, Ali RA dan Hamzah RA telah membunuh sepuluh orang dari keluarga yang sama dan tidak ada yang tinggal dari keluarga ini untuk membawa bendera orang kafir.
Pasukan pemanah pada awalnya melakukan tugas mereka dengan sangat baik sekali sehingga memperoleh tiga kali kemenangan dari pasukan musuh. Musuh mulai lari kabur. Seperti disebutkan didalam Bukhari dan yang diriwayatkan oleh Bra bin Azib RA, bahkan para pemandu sorak mereka pun lari kocar kacir dan melepaskan alas kaki (sandal/sepatu) mereka supaya dapat kabur dengan cepat. 

Wahshi, budak Jubair bin Muttan bersembunyi sendirian di belakang sebuah batu karang dan dengan licik menyerang Hamzah RA sehingga Hamzah RA mati syahid. Meskipun Hamzah RA telah dengan jelas pada posisi yang menang. 

Pasukan pemanah diperintah oleh Nabi SAW untuk tidak meninggalkan posisi mereka dalam keadaan apapun juga.Kebanyakan para pemanah merasakan bahwa Allah SWT telah memberikan kemenangan kepada angkatan perang Muslim. Mereka tidak tahan untuk mengumpulkan barang rampasan musuh yang berharga tersebut. Abdullah bin Jubair RA, pemimpin pasukan pemanah mengingatkan mereka tentang instruksi dari Nabi SAW. 

Sangat disesalkan, Abdullah bin Jubair RA ditinggalkan di sana dengan hanya sembilan orang pemanah. Musuh mengambil kesempatan ini dan sekali lagi menyerang para pemanah ini. Kesembilan orang pemanah ini mati syahid. Pasukan berkuda musuh maju terus dan mengepung angkatan perang Muslim. Kaum Muslim menjadi panik dan kacau, dan beberapa orang terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Kemenangan dengan cepat berubah menjadi suatu keadaan yang sangat mengkhawatirkan. 

Bahkan dalam situasi seperti ini banyak Sahabat yang bertempur dengan perkasa. Sebagai contoh, seperti disebutkan didalam Bukhari, Anas bin Nadar RA mati syahid dengan tujuh puluh tusukan/tikaman pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. 

Nabi SAW ditinggalkan hanya dengan sembilan orang Sahabat di sekelilingnya. Suatu peperangan berdarah terjadi di sekitar Nabi SAW. Tujuh orang Sahabat mati syahid satu persatu selagi bertahan bersama Nabi SAW. Seperti disebutkan didalam Bukhari, hanya Talha bin Ubaidullah RA dan Saad bin Abi Waqas RA yang tinggal bertahan bersama Nabi SAW.

Luka-Luka Nabi SAW
Lemparan batu-batu musuh mengenai Nabi SAW. beliau jatuh, dan salah satu dari gigi bagian bawah patah dan bibir bawah juga terluka. Musuh lainnya melukai dahi Beliau. Musuh ketiga memukul Nabi SAW dengan sangat keras dengan pedangnya. Akibatnya dua cincin pengikat helm Nabi SAW menembus ke dalam pipi Beliau. Darah bercucuran dari atas wajah Beliau.

Pertahanan Nabi SAW

Saad bin Abi Waqas RA sedang melepaskan panah kepada musuh. Nabi SAW sangat senang dengan dia dan mengucapkan doa yang unik untuknya, “Semoga Ibu dan Bapakku berkorban untukmu.” 

Talha RA sedang bertempur dengan musuh dengan berani sampai tangannya terluka dan jarinya terpotong. Selagi bertempur dengan musuh, ia juga melindungi Nabi SAW dengan 
dadanya pada saat kritis tersebut. Seperti didituliskan didalam Tirmidzi, Nabi SAW berkata, 

“Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Obaidullah.”
Seperti disebutkan didalam Bukhari, Saad bin Abi Waqas RA berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi SAW. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi SAW. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, mereka adalah malaikat-malaikat Jibril AS dan Mikail AS. Sementara itu tiga puluh orang Sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut. Masing-masing mereka menunjukkan kepahlawanan yang luar biasa seperti yang tertulis didalam buku sejarah. 
Bukit Uhud

Musuh juga telah menggali beberapa parit sebagai perangkap. Sungguh sayang, Nabi SAW jatuh masuk ke salah satu dari parit tersebut. Lutut Nabi SAW terluka dengan sangat parah. Ali RA dan Talha bin Obaidullah RA menarik beliau keluar dari parit tersebut. 

Abu Obaida bin Jarrah RA mencoba mencabut cincin pengikat helm dari pipi Nabi SAW dengan giginya. Didalam usaha pertamanya Abu Obaida RA kehilangan gigi bawahnya. Dia kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Contoh Kepahlawanan

(a) Musab bin Omair RA bertugas memegang bendera angkatan perang Muslim dan bertempur dengan sangat dahsyat. Selama bertempur tangan kanannya terpotong. Ia memegang bendera dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kirinya juga dipotong oleh musuh. Ia berlutut dan menjepit bendera dengan dada dan dagunya. Ia syahid dalam kondisi seperti ini. Karena 
Musab RA sangat mirip dengan Nabi SAW, orang kafir mengumumkan bahwa Nabi SAW telah terbunuh. Ini melemahkan semangat orang-orang beriman.

(b) Abu Dajana RA berdiri di depan Nabi SAW dengan punggungnya ke arah musuh untuk melindungi Nabi SAW. Banyak panah musuh menancap di punggungnya tetapi ia tidak bergerak satu inci pun. 

(c) Ummi Amara RA, suami dan dua orang putranya juga berkumpul disekeliling Nabi SAW ketika hanya ada beberapa orang Sahabat saja di sekeliling beliau. Ummi Amara dengan pedang terhunus bertahan bersama Nabi SAW dari semua arah. Keseluruhan keluarga mempertunjukkan keberanian luar biasa. Nabi SAW mengatakan, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Nabi SAW juga mengucapkan doa berikut untuk keluarga ini, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga Sahabatku di Surga.”

Para Wanita Di Medan Perang
Seperti disebutkan didalam Bukhari dan diriwayatkan oleh Anas RA, beberapa orang Muslimah datang ke medan perang diakhir peperangan. Mereka membawa kantong air untuk memberi minum kepada tentara yang terluka. Diantara mereka yaitu Aisyah RA, Ummi Saleem RA, Ummi Saleeth RA, dan Umm Aiman RA.

Perusakan Mayat Syuhada

Ketika Musab bin Omair RA terbunuh mati syahid, musuh mengumumkan bahwa Nabi SAW telah terbunuh karena ia sangat mirip dengan Nabi SAW. Orang kafir merasakan bahwa misi mereka telah terpenuhi. Karenanya orang kafir mulai merusak mayat para syuhada. Mereka memotong telinga, hidung, dan bagian-bagian pribadi mereka dan merangkainya sebagai bukti keberhasilan. Hindun binti Utba, isteri Abu Sufyan, membedah perut Hamzah RA dan mengeluarkan hatinya serta mengunyahnya untuk melepaskan kemarahannya. Para penyembah berhala memutuskan untuk kembali ke Makkah karena di dalam pandangan mereka, misi utama mereka telah tercapai.

Status Para Sahabat

Ada tiga faktor, yang menyebabkan berubahnya kemenangan menjadi kekalahan kaum Muslim seperti itu.
(a) Pelanggaran terhadap perintah Nabi SAW oleh pasukan pemanah.
(b) Berita kematian Nabi SAW. Ini melemahkan semangat banyak orang-orang beriman.
(c) Perselisihan paham di medan perang tentang perintah Nabi SAW.
Ini disebutkan didalam Ali Imran 152.

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.
Allah SWT berfirman bahwa penderitaan yang ekstrim ini telah menyortir orang munafik dari orang-orang yang beriman. Allah SWT menghibur orang-orang beriman dengan mengumumkan bahwa Allah SWT telah memaafkan mereka. Karenanya mereka tidak perlu untuk mempertanggungjawabkannya di Hari Pengadilan. Allah SWT Maha Pengasih kepada kaum Muslim.
Terdapat keterangan yang rinci tentang situasi yang canggung ini didalam Ali Imran 153 – 155.

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu,
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma`af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 

Disini ditunjukkan bahwa itu hanyalah untuk menguji orang-orang yang beriman. Sebagian dari orang-orang beriman dipengaruhi oleh Setan dalam kaitan dengan beberapa perbuatan mereka. Ada lagi keputusan Allah SWT yang sangat jelas didalam ayat terakhir yang menyatakan bahwa Allah SWT memaafkan para Sahabat karena Allah SWT adalah Maha Pengampun, Maha Sabar. 

Ini merupakan suatu aib meskipun ada dua keputusan Allah SWT di atas, beberapa orang berbicara tidak menyenangkan tentang para Sahabat. Seperti disebutkan ayat di atas, Allah SWT telah melimpahkan tambahan barakahNya kepada para Sahabat dengan membuat mereka tidur nyenyak di medan perang. Ini menyegarkan mereka kembali dan membuat mereka lebih siaga. Perlu dicatat bahwa tidur nyenyak didalam suatu medan perang adalah suatu barakah sementara mendirikan shalat saja sangatlah susah. Hal yang sama, barakah Allah SWT juga dilimpahan kepada kaum Muslim yang merasa cemas didalam peperangan Badar. Al Anfal 11.

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, 

Perhatikan kekeliruan lain yang dilakukan para Sahabat dan bagaimana Allah SWT menjawabnya. Ketika ketua orang munafik lari dari medan perang dengan tiga ratus para pengikutnya, ini mempengaruhi moril dari beberapa kabilah Muslim lainnya. Sesungguhnya, Bani Hartha dan Bani Salma menjadi hilang semangat. Mereka mau rasanya seperti orang munafik dan meninggalkan angkatan perang Muslim. Allah SWT, karena ke-Maha PenyayangNya pada para Sahabat, tidak membiarkan gagasan ini berkembang lebih lanjut di dalam hati mereka. Melainkan Allah SWT melindungi dan mendukung mereka dari kekeliruan ini. Ali Imran 122.

ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal.
Kedua kabilah ini dengan bangga biasa mengatakan bahwa, “Allah SWT adalah pelindung dan penolong kami.”
Catat bahwa Allah SWT sangat baik kepada para Sahabat bahkan ketika mereka melakukan beberapa kesalahan. Aku kagum betapa Allah SWT sangat senang kepada para Sahabat ketika mereka sibuk dengan amalan demi amalan.
Tidak saja Allah SWT memaafkan para Sahabat tetapi juga memerintahkan Nabi SAW untuk ramah kepada mereka. Ali Imran 159.

Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.
Pikirkan dengan seksama keempat perintah kepada Nabi SAW berikut.
1. Maafkan para Sahabatmu dengan tuntas apapun kesalahan mereka.
2. Berdoa untuk mereka.
3. Mohon kepada Allah SWT untuk mengampunkan mereka.
4. Hormati mereka dan ajaklah mereka untuk bermusyawarah mengenai hal-hal penting.
Tidak ada agama lain yang mempunyai etika dan kelapangan hati yang sangat tinggi seperti ini.
Setelah menelaah kembali petunjuk Allah SWT ini, bagaimana mungkin seseorang berani menyalahkan para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Hadiah Lain Dari Allah Swt

Menuju akhir peperangan Uhud, para penyembah berhala tampil sebagai pemenang. Mereka bisa saja menyerang pemukiman Madinah untuk melakukan perusakan disana. Allah SWT menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka memilih kembali ke Makkah daripada menyerang Madinah. Ali Imran 151.

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. 

Aku berharap para pengunjung lokasi perang Uhud akan mendapat manfaat dari pelajaran yang diterangkan di dalam buku ini.
Nabi SAW dan para Sahabatnya beristirahat sejenak di lokasi Masjid Al Mustrah dalam perjalanan kembali mereka ke Madinah. Masjid ini berada di jalan sekarang yang dikenal sebagai jalan Sayyid-Syuhada. Selama kunjungan ke Masjid ini kita harus berdoa untuk para pejuang Muslim dan bandingkan hidup kita yang nyaman dengan luka yang diderita Nabi SAW dan Sahabatnya.

Perang Badar

Persaudaraan orang-orang Islam yang datang dari Makkah dengan orang-orang Islam kota Madinah, iaitu kaum Muhajirin dan kaum Ansar, begitu baik dan kuat, seakan-akan mereka semua bersaudara kandung, tolong-menolong dengan serapat-rapatnya. 



Kota Madinah yang boleh dikatakan kota Yahudi itu, mengalami perubahan besar, dengan banyaknya orang-orang Yahudi yang masuk Ugama Islam. Hal ini menimbulkan gerakan anti Islam dikalangan orang-orang Yahudi yang masih fanatik. Dalam pada itu kaum musyrik Makkah semakin cemas hatinya melihat kemajuan Ugama Islam di Madinah itu. 


Kemarahan bangsa Yahudi makin bertambah, setelah Allah memerintahkan berkiblat dari Baitui Maqdis ke Kaabah di Makkah, sekalipun Kaabah sendiri dikala itu masih penuh dengan berhala. Nabi melayani setiap orang Yahudi dengan baik dan lemah-lembut. Dengan mereka dibuat perjanjian, dimana ditetapkan:

1. Orang Yahudi dan Orang Islam hendaklah hidup sebagai satu bangsa.
2. Masing-masing merdeka menjalankan upacara keagamaan masing-masing dan tidak boleh ganggu-mengganggu.
3. Jika salah satu diserang musuh, yang lain akan memberikan bantuannya.
4. Bila kota Madinah mendapat serangan, orang-orang Islam dan orang-orang Yahudi harus bersama-sama mempertahankannya.
5. Jika antara kedua pihak timbul perselisihan, maka Nabi sendiri yang akan mengadilinya.

Tetapi tak lama sesudah perjanjian itu ditandatangani, orang-orang Yahudi mulai melanggarnya dengan mengadakan hasutan untuk mengenyahkan orang-orang Islam dari Madinah. Gerakan ini bukan gerakan yang boleh dianggap mudah, tetapi gerakan besar, yang berbahaya sekali terhadap jiwa ummat Islam, kerana gerakan ini dipimpin oleh seorang Yahudi yang besar pengaruhnya iaitu Abdullah bin Ubay, yang hampir saja diangkat bangsa Yahudi menjadi Raja Madinah. Abdullah bin Ubay ini sangat anti terhadap Islam, kerana dengan tersiarnya Ugama Islam itu, pengaruhnya semakin berkurangan. 

Dalam pada itu, penduduk Makkah sudah bersiap sedia pula untuk menyerang orang Islam dengan kekuatan yang besar. Kedudukan orang Islam mulai sulit dan berbahaya sekali.
KEIZINAN UNTUK BERPERANG
Dalam keadaan yang meruncing itu, turun wahyu Allah kepada Nabi yang berbunyi: "Berperanglah dalam jalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melanggar batas, kerana Allah tidak suka kepada orang yang melanggar batas. Bunuhlah mereka itu dimana saja kamu jumpai dan usirlah mereka itu sebagaimana mereka telah mengusir kamu. Tetapi ingat pula, bahawa fitnah adalah lebih berbahaya dari pembunuhan. Tetapi janganlah kamu berperang didalam Masjidil Haram (Kaabah), kecuali kalau diperanginya kamu disana." 



Selama ini Nabi dan orang-orang Islam hanya disuruh mundur dan hijrah. Sekarang diperintahkan Allah untuk berperang, kerana kini mereka sudah cukup menerima penganiayaan.
Jelas perintah itu, iaitu perang bukan untuk memaksa orang masuk Ugama Islam, tetapi adalah semata-mata mempertahankan diri kalau diserang. Kerana Ugama Islam tidak boleh dipaksakan kepada siapa jua, walaupun kepada keluarga dan famili Nabi sendiri. 


Kerana perintah itu, maka Nabi mulai menyusun tentera mengatur pertahanan dan perlengkapan. Mula-mula ke dalam kota Makkah diutus Nabi beberapa orang perisik, untuk mengetahui rencana dan kekuatan musuh, serta untuk menarik kepala-kepala bangsa Badwi ke pihak Islam. 


Pada bulan Rejab tahun kedua hijrah, Nabi mengutus dua belas orang Muhajirin, dikepalai Abdullah bin Jahasy keluar kota Madinah; suasana di kala itu sudah runcing sekali. Kepadanya diberikan sepucuk surat bersampul, Nabi mengizinkan membuka surat tersebut setelah dua hari dalam perjalanan. 





Setelah dua hari dalam perjalanan, lalu surat itu dibuka. Ternyata dalamnya satu perintah dari Nabi agar mereka menuju ke Nakhlah, satu tempat di antara Makkah dan Taif, guna mencari keterangan sebaik-baiknya tentang gerak-geri orang Makkah (musuh). Hal ini dilakukan bukan untuk menyerang Makkah, tetapi untuk berjaga-jaga semata-mata. 

Disana, Abdullah bertemu dengan kafilah kecil orang Makkah yang dalam perjalanan pulang dari Taif. Orang-orang ini diserangnya, seorang mati iaitu 'Amru bin Hadhramy dan dua orang lainnya ditawan, yaitu Usman bin Abdullah dan Hakam bin Kaisan, sedang harta bendanya dirampas. Dalam hal itu Abdullah telah melanggar perintah Nabi, kerana disaat itu dalam Bulan Muharam, dimana dilarang menumpahkan darah. Nabi sangat marah kepadanya. 




Hal ini membangkitkan semangat bangsa Quraisy (Makkah), untuk menyerang kaum Muslimin.
Nabi mendapat lapuran, bahawa kafilah bangsa Quraisy yang amat besar terdiri dari seribu ekor unta dengan segala muatannya, sedang dalam perjalanan dari Syria menuju Makkah. Untuk mengurangi kekuatan musuh yang telah siap untuk menyerang itu, Nabi memerintahkan untuk menahan kafilah itu dan merampas harta dan barang dagangan untuk dijadikan kekuatan perang. Maksud Nabi ini diketahui oleh Abu Sufyan yang mengepalai kafilah itu. Abu Sufyan segera mengirim utusan ke Makkah minta bantuan tentera sebanyak mungkin, sedang perjalanan kafilahnya dibelokkan melalui satu tempat yang bernama Badar, menyusur pantai Lautan Merah. Makkah segera mengirimkan bantuan yang terdiri dari seribu orang tentera, seratus orang diantaranya pasukan berkuda dan tujuh ratus orang lainnya pasukan unta, yang kesemuanya dikepalai oleh Abu Jahal sendiri. Ketika pasukan bantuan ini bertemu dijalan dengan Abu Sufyan, Abu Sufyan menyuruh pasukan ini kembali saja ke Makkah. Tetapi Abu Jahal ingin memperlihatkan kekuatan tenteranya kepada orang Madinah itu. 


Pasukan Rasulullah s.a.w. hanya terdiri dari tiga ratus tiga belas orang saja. Diantaranya hanya dua orang berkenderaan kuda. Tentera yang kecil ini berangkatlah bersama Rasulullah menuju satu tempat yang dinamai Badar. 


Setelah Rasulullah mengetahui akan kedatangan bantuan Quraisy yang amat besar jumlahnya itu, Rasulullah bermesyuarat dengan para sahabat beliau. Abu Bakar dan Umar menasihatkan agar pertempuran diteruskan. Begitu juga Miqdad bin 'Amru dari Muhajirin. la berkata kepada Rasulullah: "Teruskanlah apa yang diperintahkan Allah kepada engkau. Kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil dahulu kepada Nabi mereka Musa a.s. Mereka berkata kepada Musa: Pergilah engkau beserta Tuhan engkau berperang, sedang kami biarlah duduk saja di sini (menonton). 



Sebaliknya kami, kata Miqdad seterusnya akan berkata kepada engkau: Pergilah engkau beserta Tuhan engkau berperang, dan kami akan bersama engkau bertempur. Demi Allah yang telah mengutus engkau membawa kebenaran, jika sekiranya engkau memerintahkan kami berangkat ke Birkil Ghamad (nama suatu tempat yang amat jauh di Yaman), kami akan memaksa diri kami agar kami sampai ke sana." 

Berkata pula Sa'ad bin Mu'az dari golongan Ansar: "Kami sudah beriman kepada engkau, kami sudah membenarkan akan engkau dan mengakui bahawa apa yang engkau bawa kepada kami adalah hak, kami sudah berjanji akan tunduk dan taat. Maka teruskanlah, ya Rasulullah, dengan apa yang engkau kehendaki, kami akan selalu bersama engkau. Demi Tuhan yang telah mengutus engkau dengan hak, sekiranya engkau harus menyelam lautan itu, kami akan menyelaminya bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami tidak takut apa pun yang akan dilakukan musuh terhadap diri kami, kami adalah orang-orang yang tabah dalam perang. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepada engkau apa-apa yang menyenangkan hati engkau, sehingga kami akan senang pula dengan berkat dari Allah." 


Rasulullah sangat gembira mendengar ucapan-ucapan yang diucapkan para sahabat itu. Rasulullah lalu berkata memberikan perintah kepada mereka: "Berangkatlah dan bergembiralah, Allah sudah menjanjikan kepadaku akan pertolonganNya, seolah-olah aku melihat tempat-tempat yang menjadi sumber minum mereka."
Kaum Quraisy dan bala bantuannya yang banyak itu dikerah oleh Abu Sufyan, mengambil kedudukan dilereng jauh ditempat rendah. Sedang Rasulullah memerintahkan pasukan beliau mengambil tempat dilereng yang dekat ditempat tinggi dari Wadi Badar. 


Seorang sahabat bernama Habbab bin Munzir mendatangi Rasulullah dan berkata: "Apakah kedudukan yang engkau pilih ini menurut perintah (wahyu) dari Allah? Kalau memang begitu, kita tidak akan beranjak dari kedudukan ini. Tetapi kalau hanya pendapat Rasulullah sendiri berdasarkan siasat atau strateji semata, maka saya berpendapat lain. Lebih baik kita mengambil kedudukan ditempat yang lebih rendah, dekat sumber air yang akan diperguna-kan oleh musuh-musuh itu. Kita buat tangki-tangki dan kita gali perigi, lalu kita penuhi dengan air dari sumber itu, kemudian sumber itu kita timbun dengan tanah. Biar musuh tidak dapat air minuman, agar mereka menderita dahaga, sedang kita terus bertempur dengan persediaan air yang banyak itu." 


Pendapat Habbab ini dibenarkan oleh Rasulullah, kerana Rasulullah mengambil tempat kedudukan yang pertama tadi itu tidak berdasarkan perintah dari Allah, semata-mata pendapat peribadi beliau sendiri.
Seluruh pasukan dikerahkan untuk membuat tangki-tangki dan menggali perigi, mengisinya dengan air sebanyak mungkin, lalu menutup sumber air yang akan dipergunakan oleh musuh itu. Para sahabat pun membuat sebuah gubuk untuk Rasulullah, tempat beliau memberikan arahannya. Berkata Sa'ad al-Anbany: "Ya Rasulullah, bila Allah memenangkan kita, engkau tetap sajalah digubuk itu, tetapi bila kami tewas seluruhnya, engkau hendaklah segera meninggalkan gubuk itu bergabung dengan sahabat-sahabat kita yang masih hidup, yang kecintaan mereka terhadap engkau tidaklah kurang dari kecintaan kami." Rasulullah amat terharu mendengar ucapan yang demikian itu. Keesokan harinya musuh yang terdiri lebih dari seribu orang itu mulai menyerang. Melihat kedatangan musuh yang dengan amat tiba-tiba itu, Rasulullah berdoa: "Allahumma, ya Allah, kaum Quraisy sudah menyerang dengan sombong dan membanggakan kekuatan mereka, mereka menentang Engkau dan mendustakan akan Rasul Engkau. Ya Allah, hanya pertolongan yang pernah Engkau janjikan kepadaku yang akan dapat mengalahkan dan menghancurkan mereka. Ya Allah, hancurkanlah mereka." 


Tentera Makkah bukan main marahnya. Dengan segera mereka menyerang dengan pasukan berkuda terhadap tentera Islam. Dua orang pasukan berkuda musuh (Quraisy) gugur ke tanah dipanah tentera Islam. Dari tentera musuh maju ke depan tiga orang pahlawan, iaitu 'Utbah dan Syaibah (bersaudara) dengan anak 'Utbah yang bernama al-Walid. Untuk menghadapi ini, Nabi memerintahkan tiga orang pahlawan Islam pula, iaitu Ali, Hamzah dan Ubaidah. Ali dan Hamzah dapat menewaskan musuh sedangkan Ubaidah dan lawannya masing-masing mendapat luka yang parah dan kerana luka-luka ini Ubaidah meninggal dunia di atas pangkuan Nabi sendiri. 


Kaum Muslimin yang sedikit itu menghadapi lawan yang lebih dari tiga kali ganda banyaknya. Nabi mendoa kepada Tuhan: "Oh, Tuhan! Penuhilah janjiMu untuk memberi kemenangan. Kalau ummat yang kecil ini binasa (kalah), maka akan menanglah agama berhala dan tidak akan ada lagi orang yang menyembahMu di muka bumi." 


Abu Bakarlah ketika itu orang yang paling sedih dan khuatir melihat ramai dan kuatnya musuh yang sedang dihadapi oleh tentera Islam. Dengan memegang kain tutup kepala Nabi, Abu Bakar berkata kepada Nabi: "Ya Nabi Allah, Tuhan tentu akan mengabulkan doamu dan Tuhan tentu menolong kita menghadapi musuh yang ramai ini." 


Tiba-tiba Nabi seakan-akan tertegun dalam mendoa. Di kala itu turunlah wahyu Allah yang berbunyi: "Hai, Nabi! Kerahkanlah orang-orang Mu'min itu bertempur! Dua puluh orang Mu'min yang sabar, akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh dan seratus orang (Mu'min yang sabar) akan dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, kerana orang-orang kafir itu tidak mempunyai dasar yang teguh."
Dengan segera Nabi menghadapkan mukanya kepada tentera Islam yang sudah siap sedia, lalu 



berkata: "Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad, orang-orang yang berperang dengan sabar dan penuh harapan ganjaran Allah, terus maju dan takkan mundur setapak, bila dia terbunuh, terus masuk ke dalam Syurga Allah." 

Kemudian diambil Nabi segenggam pasir, lalu dilemparkannya ke arah musuh. Arahan dan perintah menyerbu sudah diberikan. Kaum Muslimin maju bertempur dengan keimanan dan keyakinan yang penuh dan kuat, dengan serentak berteriak: Ahad, Ahad, Ahad. 


Dikala itu angin berhembus dengan kencangnya ke arah tempat musuh. Pasir padang pasir berterbangan sebagai asap tabir yang amat tebal. Mata pedang mulai bergerincingan berbunyi ditengah-tengah suara takbir dan derunya angin ribut.
Kerana angin berhembus ke arah tentera musuh, maka hal itu sangatlah menguntungkan pihak ummat Islam yang dipimpin Nabi. Bukan hanya perajurit, tetapi banyak panglima-panglima tentera musuh, seorang demi seorang tewas di hujung mata pedang; diantaranya 'Utbah, Syaibah, al-Walid, Umaiyah bin Khalaf, Abul Bukhtary, Hamzah anak Abu Sufyan. 


Dalam pertempuran itu pula, Mu'az bin 'Amru dari golongan ummat Islam telah dapat melukai Abu Jahal, tetapi anak Abu Jahal segera datang membantu ayahnya, sehingga tangan Mu'az kena mata pedang hampir putus, tergantung di bahunya. Dengan segera Mu'az memutuskan tangannya yang tergantung-gantung itu, lalu tampil menyerang Abu Jahal. Abu Jahal terbanting jatuh, segera ditikam oleh seorang pemuda Ansar, iaitu Bin Affa sehingga Abu Jahal tewas seketika itu juga berlumuran darah bersama kudanya. Kepala Abu Jahal yang telah bercerai dengan badannya, dibawa Ibnu Mas'ud ke hadapan Nabi. 


Melihat panglima tertingginya sudah tewas, maka barisan musuh mulai kucar kacir, lari tunggang-langgang dikejar orang Islam dari belakang. Mereka meninggalkan tujuh puluh mayat dimedan perang, yang umumnya terdiri dari pemuka-pemuka mereka dan tujuh puluh orang lagi menjadi tawanan perang. Sedang dipihak ummat Islam hanya empat belas orang yang mati syahid dan tidak seorang juga yang menyerah kepada musuh. 



Di antara tokoh-tokoh yang berkaliber besar dari kaum Musyrikin Quraisy yang tewas itu antara lain Abu Jahal bin Hisyam (panglimanya), 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Umaiyah bin Salt. Semua mayat musuh itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang, lalu ditimbuni dengan tanah. Rasulullah lalu berdiri di tempat itu dan berkata: "Hai Ahli Lubang, hai Abu Jahal bin Hisyam, hai 'Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umaiyah bin Salt, apakah kamu sudah memperoleh apa-apa yang dijanjikan Tuhan kamu kepada kamu sekalian? Kami sudah memperolehi apa yang pernah dijanjikan Allah kepada kami."
Mendengar itu para sahabat bertanya kepada Rasulullah: 


"Ya Rasulu'llah, apakah engkau menyeru orang-orang yang sudah menjadi bangkai?" Rasulullah menjawab: "Mereka lebih mendengar daripada kamu akan apa-apa yang saya ucapkan itu, hanya mereka tidak dapat menjawabnya." 


Perang inilah yang dinamai perang Badar Kubra, terjadi pada tujuh belas Ramadhan tahun kedua Hijrah. Kemudian ternyata, bahawa Allah telah mengirimkan pertolonganNya kepada ummat Islam dalam perang itu. Bukan saja pertolongan yang berupakan angin dan debu, tetapi pula beberapa Malaikat, sebagai ternyata dalam wahyu Allah yang datang kemudian.
Terhadap para tawanan itu berbagai-bagai usul yang masuk. Umar Ibnul-Khattab mengusulkan agar mereka dibunuh semuanya, seimbang dengan kekejaman mereka terhadap orang-orang Islam. Tetapi 




Abu Bakar mengusulkan agar tawanan-tawanan yang kaya, diwajibkan menebus dirinya masing-masing dengan wang yang banyak, lalu dilepaskan dan yang miskin dan tak berbahaya, dilepaskan saja tanpa tebusan. Dengan wahyu Allah, Nabi menjalankan usul Abu Bakar, menolak usul Umar. Para tawanan yang mempunyai kepandaian menulis, dapat menebus dirinya dengan kepandaiannya itu.
Dengan jalan begitu, perlakuan terhadap tawanan memang diatur Nabi sebaik mungkin. Hal inilah yang menyebabkan kemenangan yang berterusan untuk kaum Muslimin disamping dengan pertolongan dari Allah. Salah seorang yang membayar tebusan yang agak besar sekali ialah Abbas iaitu bapa saudara Nabi sendiri. 


Dimakkah kaum Quraisy menunggu perkhabaran tetapi setelah tiba ternyata kekalahan dipihak mereka dimana banyak yang mati dan tertawan. Dari tentera yang pulang itu mereka ketahui jalan peperangan, budak suruhan Abbas yang bernama Abu Rafi dengan keras berkata: Demi Allah. Tentu saja Malaikatlah yang menolong tentera Islam! 


Mendengar perkataan itu bukan main marah lagi Abu Lahab, walaupun masih lagi dalam kesakitan dipukulnya Abu Rafi setengah mati. Kejadian itu dilihat oleh isteri Abbas, dia amat marah diambilnya lembing lalu ditikamnya Abu Lahab, parah dibuatnya. Dengan keaadan yang luka parah dan malu Abu Lahab pulang kerumah, sakitnya semakin tenat setelah tujuh hari dia pun mati. Makkah berada dalam kesedihan atas kekalahan yang dialami tentera mereka.