SS2 atau Senapan Serbu 2 adalah senapan serbu buatan PT Pindad yang
merupakan generasi kedua dari senapan serbu Pindad sebelumnya, SS1. SS2 diklaim memiliki
desain yang lebih ergonomis, tahan terhadap kelembaban tinggi,
lebih ringan, serta akurasi yang lebih baik.
Type SS2 Pindad
SS2
ini memiliki kesamaan bobot yang ringan. Bobot ini menjadi perhatian, sebab
pada SS1 yang memiliki bobot kosong 4,01 kg, dinilai terlalu berat. SS2,
memiliki bobot kosong 3,2 kg.
SS1 PT.Pindad mendunia
Dengan
menggunakan peluru kaliber 5,56 x 45 mm standar NATO dan panjang laras 460 mm,
SS2 mampu memuntahkan 700 butir peluru per menit. Peluru yang ditembakkan
memiliki kecepatan 710 m/detik, dengan jarak tembak efektif sejauh 450 m.
SS2-V5 A1 Kal. 5.56 mm
Kecepatan peluru
yang ditembakan sekitar 710 m/detik, dengan jarak efektif tembakan sejauh 450
m. Menggunakan alat bidikan besi, amunisi yang dipakai SS2 merupakan Magazen
box isi 30 butir.
Type Senjata SS1 PT.Pindad
Type Senjata SS2 V4 PT.Pindad
SS2 Awalnya tersedia dalam tiga versi dasar
(standard rifle SS2-V1, carbine SS2-V2 dan para-sniper SS2-V4) sekarang ini
juga tersedia dalam subcompact versi SS2-V5, yang dikenalkan pada 2008.
SS2-V5
Indonesia:
Lebih dari 25.000 pucuk dibeli oleh TNI. Rata-rata pengguna saat ini adalah pasukan
khusus, seperti Komando Pasukan KatakTNI-AL dan KopassusTNI-AD.
PT PINDAD (Persero) adalah perusahaan industri dan manufaktur yang bergerak dalam pembuatan produk militer dan komersial di Indonesia dan memperkerjakan sekitar 3000 karyawan
PT. PINDAD adalah Perusahaan Industri Manufaktur Indonesia yang bergerak dalam bidang Produk Militer dan Produk Komersial. Kegiatan PT. PINDAD mencakup desain dan pengembangan, rekayasa, perakitan dan fabrikan serta perawatan.
Sejak terpilih menjadi presiden RI untuk kedua kalinya, pada awal tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menggunakan mobil dinas kenegaraan Mercedes-Benz S600L model W221.
Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat
Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN
Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Koninklijke Maatschappij de
Schelde, Vlissingen, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum
berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk
diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM,
Surface to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.
Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.
Pada
tahun 2007, bersama dengan KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355), selesai
menjalani pergantian mesin yang dijalaninya selama 2 tahun. Saat ini
KRI Ahmad Yani kembali memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur
KRI Ahmad Yani
memiliki berat 2,940 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x
4,57 meter. Ditenagai oleh turbin uap dengan 2 boiler, 2 shaft yang
menghasilkan 30,000 shp sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 28,5
knot. Diawaki oleh maksimal 180 pelaut.
Latihan Bersama
Persenjataan
KRI Ahmad Yani dipersenjatai dengan
berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan
republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
8 Peluru Kendali
Permukaan-ke-permukaan McDonnel Douglas RGM-84 Harpoon dengan jangkauan
maksimum 130 Km (70 mil laut), berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active
radar homing dengan hulu ledak seberat 227 Kg.
4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad
laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4
Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg.
Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan
kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12
Km untuk target udara.
2 Senapan mesin 12.7mm
12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3
tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg.
Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
Navigasi dan Sensor
KRI Ahmad Yani diperlengkapi radar LW-03
2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol
penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang
elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2
peluncur decoy RL.
Dukungan Udara
KRI Ahmad Yani memiliki
dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini
pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini
diganti dengan NBO-105 atau NAS 332L Super Puma.
Spesifikasi umum Kapal
Berat benanam: 2.200 ton standar, 2.850 ton beban penuh
Panjang: 113,4 m (372.05 kaki)
Lebar: 12,5 m (41.01 kaki)
Draught: 5,8 m (19.03 kaki)
Tenaga penggerak: s shaft, geared steam turbines 2 boilers, 30.000 hp
Hasil karya anak bangsa, dirgantara
Combat Helicopter GANDIWA merupakan helikopter militer dengan peran
utama sebagai pesawat/helikopter tempur, dengan kemampuan menyergap
target di darat, seperti musuh infanteri dan kendaraan lapis baja.
Brigif Linud 17 Kostrad
mendapatkan penghormatan, menjadi pasukan AD pertama yang menggunakan
Battle Dress Uniform (BDU) terbaru, untuk pasukan TNI. Warna hijau dari
Pakaian Dinas Lapangan (PDL) ini lebih menyatu dengan alam, sehingga
memaksimalkan kamuflase pasukan. Motif bercak lorengnya pun lebih halus
karena menggunakan pixel/ digital effect. Code dress dan atribut
diperbaiki penampilannya mendekati model US Army.
Kehormatan pemakaian seragam BDU oleh Kostrad karena Kostrad merupakan unsur
pasukan lapangan yang paling besar di TNI. Panglima Kostrad dipimpin
oleh Jenderal bintang tiga. Sementara Kopassus dan Kodam dipimpin oleh
Jenderal berbintang dua.
Kalau pilihannya jatuh ke Kostrad, lalu pasukan mana yang lebih dulu
menggunakannya ?. Tentu pasukan yang senior. Dan mereka adalah Linud
Kostrad, yang sudah malang melintang di medan pertempuran.
Brigif Linud 17 terdiri dari tiga bataliyon: Yonif Linud
305/Tengkorak (Karawang, Jabar), Yonif Linud 328/Dirgahayu (Cilodong,
Kab.Bogor), dan Yonif Linud 330/Tri Dharma (Cicalengka, Kab Bandung).
Markas Brigif 17 terletak di Cijantung (Jakarta Timur), satu komplek dengan Mako Kopassus, Yonkav 1 Badak Ceta Cakti/Kostrad, dan Yonkav 7 Panser Khusus/Kodam Jaya.
Brigif Linud 17 Kostrad, telah mencetak jenderal-jenderal ternama,
antara lain: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Panglima TNI
Jenderal (purn) Endriartono Sutarto dan Jenderal (Purn) Feisal Tandjung,
Mantan KASAD Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, Letjen (Purn) Djamari
Chaniago, Letjen (Purn) Suaidi Marasabesi, Letjen Purn Prabowo Subianto,
Letjen (Purn) Agus Wijoyo, Letjen (Purn) Fachrul Razie, Letjen (Purn),
Djadja Suparman, Irjenad Mayjen Geerhan Lentara dan banyak lagi.
Selain BDU/ PDL, kelengkapan pasukan juga disempurnakan seperti: ransel
tempur, sepatu, decker pelindung lutut, sarung tangan, sarung senjata,
perlengkapan minum, komunikasi dan lain sebagainya.
Diharapkan BDU dan perbaikan kelengkapan Linud 17 Kostrad ini, segera
merata kepada satuan satuan lain. Untuk mengemat biaya, pergantian
perlengkapan ini diharapkan dilakukan saat jatuh tempo pemberian seragam
dan kelengkapan baru pasukan.
Yang belum diketahui adalah, apakah Battle Dress Uniform (BDU)
terbaru ini akan digunakan oleh seluruh pasukan TNI atau per-angkatan.
Sebagian tentara asing telah mengubah PDL mereka berdasarkan Angkatan:
Darat, Laut dan Udara.
Sumber : http://jakartagreater.com/2012/06/battle-dress-uniform-linud-kostrad/
KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci.
Sejarah Kapal
Kapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine ini dibangun di H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produk galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar dari tiga yang pernah diproduksi. Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat Perang Dunia II galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.
Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman Barat, pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953,
dan pada bulan Juli nya dilayarkan ke Indonesia oleh taruna AL dan
kadet ALRI. Setelah itu KRI Dewaruci yang berpangkalan di Surabaya,
ditugaskan sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan
juga ke luar negeri.
Penugasan
Setiap tahunnya, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke berbagai belahan dunia dengan tujuan utama adalah latihan pelayaran bintang atau disebut Kartika Jala Krida.
KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di berbagai tempat di dunia. Kapal ini juga memiliki marching band sendiri, yaitu marching band taruna Akademi Angkatan Laut yang biasa dikenal dengan nama Gita Jala Taruna.
Karier (ID)
Produksi
H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman
Mulai dibuat
1952
Diluncurkan
24 Januari 1953
Ditugaskan
1953
Status
Masih bertugas
Pelabuhan utama
Armada Timur TNI-AL
Karakteristik umum
Berat benaman
847 ton
Panjang
585 m (1,919.29 kaki)
Lebar
950 m (3,116.80 kaki)
Draft
405 m (1,328.74 kaki)
Tenaga penggerak
1 unit Diesel 986 HP, dengan satu propeler berdaun 4
TNI AL kini punya kapal perang berdesain tercanggih. Hebatnya, kapal
perang itu dirancang dan dibuat di dalam negeri, tepatnya di galangan
kapal North Sea Boats di Banyuwangi, Jawa Timur.
“Mendarat dan menang..,” itulah misi utama Marinir di seluruh dunia
dalam menjalankan tugas sebagai pasukan pendarat, pembuka gerbang untuk
operasi militer lanjutan. Bagi Korps Marinir TNI AL adalah hal lumrah
untuk berjibaku dan mempertaruhkan nyawa dalam tiap operasi pendaratan
militer di seluruh wilayan Nusantara.
History Ranpur Pendarat Pasukan
Tapi “beban berat” Korps Marinir yang malang melintang dalam berbagai
konflik, mulai dari Dwikora, Timor Timur sampai Aceh kebanyakan masih
mengandalkan kendaraan tempur (ranpur) amfibi berusia paruh baya. Ambil
contoh ranpur BTR-50 dan PT-76 yang sudah eksis menjadi alutsista Korps
Marinir sejak awal tahun 60-an. Salah satu sukses misi tempur pendaratan
adalah ketersediaan ranpur pengangkut personel (armoured personel
carrier/APC) yang handal.
BTR-50
Untuk urusan ranpur pendarat amfibi, sudah empat dekade Marinir TNI
AL selalu mengandalkan BTR-50. Walau sudah diretrofit, tetap pada
hekekatnya BTR-50 adalah ranpur tua. Penggunaan ranpur tua pun membawa
risiko yang tak kecil, sudah beberapa kali terjadi insiden yang
menewaskan prajurit Korps Marinir. Memang ada ranpur pendarat lain yang
bisa jadi alternatif, sebut saja AMX-10 dan BVP-2, keduanya memang lebih
modern tapi sayang tak bisa membawa personel lebih banyak dari BTR-50,
dimana BTR-50 bisa membawa 20 personel bersenjata lengkap.
PT-76
Ranpur Pendarat Pasukan Era Baru Untuk Marinir
Barulah pada tahun 2010, muncul “solusi” mujarab untuk Korps Marinir
dengan hadirnya ranpur LVTP (Landing Vehicle Tracked)-7. LVTP-7
dirancang dengan desain roda rantai, bisa dibilang masuk kelas tank
amfibi. Ranpur ini tergolong unik, sebab LVTP-7 terlihat bongsor dengan
bobot mencapai 30 ton. Jadilah LVTP-7 sebagai ranpur amfibi dengan bobot
terberat yang dimiliki Korps Marinir. Bobot ranpur ini tentu bukan
tanpa alasan, LVTP-7 sanggup membawa 25 personel bersenjata lengkap plus
3 awak.
LVTP-7
Konfigurasi posisi awak dan personel di kabin LVTP-7
Selayaknya ranpur pembawa personel, asupan persenjataan pada LVTP-7
tergolong terbatas, pastinta tak dirancang untuk menghancurkan MBT (main
battle tank). Tapi tetap ada sisi unik yang melengkapi persenjataan
pada ranpur ini, maklum Amerika Serikat selalu mengandalkan varian
LVTP-7 dalm tiap gelar operasi amfibi, bahkan tak cuma operasi amfibi,
ranpur yang juga dijuluki AAV (Assault Amphibian Vehicle)-7 ini juga
hadir di medan konflik berpasir, seperti di Somalia dan wilayah Irak.
Persenjataan Ranpur
Sebagai senjata andalan, LVTP-7 mempercayakan kehandalan SMB (senapan
mesin berat) browning M2HB kaliber 12,7 mm. Secara teori ranpur ini
biasa memuat hingga 1200 peluru kaliber 12,7 mm. Tapi bisa juga SMB
ditukar dengan pelontar granat kaliber 40 mm dengan tipe peluru M430
berkategori HEDP (high explosive dual purpose). Sedangkan untuk
perlindungan, ranpur ini dilengkapi smoke discharger kalibr 40 mm.
LVTP-7 memilikki lapian baja standar 5 cm.
Ruang kabin personel, posisi "atap" pada ranpur dapat dibuka untuk keluar masuk pasukan dan bantuan tembakan
Mesin Ranpur
Sebagai penggerak, LVTP-7 menggunakan mesin General Motors 8V53T yang
ditempatkan pada kompartemen depan, serupa dengan ranpur AMX-10 dan
BVP-2. Dengan daya maksmal yang disemburkan sebesar 400 hp dan dukungan
sistem transmisi FMC-400-3 dengan empat percepatan, ranpur ini dapat
dipacu hingga kecepatan 64 Km per jam di darat dengan jarak tempuh 480
Km. Sementara saat berenang, berkat sepasang waterjet di kiri dan kanan
mampu menghasilkn daya dorong hingga kecepatan 14 Km per jam.
Tampak ruang kemudi dan perangkat komunikasi
LVTP-7 milik Korps Marinir TNI-AL berasal dari Korea Selatan, pabrik
pembuatnya pun bukan FMS, melainkan dibuat berdasarkan lisensi oleh
Samsung Techwin. Indonesia memperoleh ranpur ini lewat program hibah,
dari yang awalnya direncanakan bakal 35 unit, hingga saat ini baru hadir
10 unit LVTP-7 di Jakarta.
Presiden SBY saat menjajal pendaratan LVTP-7 di kawasan pantai Lampung
Walau dari segi jumlah sangat minim, LVTP-7 buatan Korea Selatan ini
semuanya sudah di upgrade ke versi AAV-7A1. LVTP-7 sangat pas
dioperasikan dari kapal jenis LPD (Landing Platform Dock), seperi KRI
Surabaya dan KRI Makassar.
Type
Armoured personnel carrier
Place of origin
United States
Service history
In service
1972–present
Used by
See Operators
Wars
1982 invasion of the Falkland Islands, Gulf War, Operation Restore Hope, Iraq War,
Production history
Designer
FMC Corporation
Manufacturer
FMC Corporation
Produced
1972
Specifications
Weight
29.1 tons
Length
7.94 m (321.3")
Width
3.27 m (128.72")
Height
3.26 m (130.5")
Crew
3+25
Armor
45 mm
Main
armament
Mk 19 40 mm automatic grenade launcher (864 rounds) or M242 Bushmaster 25mm (900 rounds)
Meski tak lagi jadi ”pemain” yang dominan di kawasan Asia Tenggara,
kekuatan armada kapal selam TNI-AL masih cukup disegani, walau hanya
memiliki 2 unit kapal selam saja. Tumpuan TNI-AL yakni kapal selam dari
type 209/1300 yang dibuat oleh galangan kapal Howaldtswerke di Kiel,
kawasan Jerman Barat. Type 209 TNI-AL mulai dipesan Indonesia pada tahun
1977, dan baru pada tahun 1981 mulai bertugas memperkuat armada TNI-AL
dengan panggalannya di Lanal Dermaga Ujung, Surabaya.
Kedua
kapal diberi nama KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402). Angka 4
menunjukkan identifikasi divisi kapal selam. Sebelumnya di era tahun
60an, TNI-AL juga menggunakan kode yang sama untuk identifikasi 12 unit
kapal selamnya. Untuk kemudahan identifikasi, kedua kapal disebut
sebagai kapal selam kelas Cakra.
KRI Cakra (401)
Tipe209adalahkelasdiesel-listrik kapal selamserangandikembangkan secara eksklusifuntuk ekspor olehHowaldtswerke-Deutsche WerftJerman. Varianasli (Type 209/1100) dirancangpada akhir tahun 1960. Meskipuntidakdioperasikan olehAngkatan Laut Jerman, lima variankelas(209/1100, 209/1200, 209/1300, 209/1400dan209/1500)telah berhasildiekspor ke13negara, dengan61kapal selamsedang dibangundanditugaskanantara 1971dan 2008.
KRI Nanggala (402)
Kapal selam type 209 terbilang cukup laris di pasar internasional,
salah satu prestasi kapal jenis ini mampu mengusik gugus tempur angkatan
laut Inggris saat perang Malvinas di Atlantik Selatan. Setelah
menembakan torpedo yang sayangnya tak meledak, type 209 Argentina
berhasil lolos dari upaya sergapan setelah 60 hari kucing-kucingan, dan
bisa kembali ke pangkalan dengan selamat.
KRI
Cakra digerakan oleh motor listrik Siemens jenis low-speed yang
disalurkan langsung (tanpa gear pengurang putaran) melalui sebuah shaft
ke baling-baling kapal. Total daya yang dikirim adalah 5000 shp (shaft
horse power), tenaga motor listrik datang dari baterai-baterai besar
yang beratnya sekitar 25% dari berat kapal, baterai dibuat oleh Varta
(low power) dan Hagen (Hi-power). Tenaga baterai diisi oleh generator
yang diputar 4 buah mesin diesel MTU jenis supercharged.
KRI Cakra dan pasukan katak
Saat
menyelam kapal selam menggunakan tenaga listrik, hal ini membuat
pengoperasinnya bebas bising, senyap sehingga tak mudah terdeteksi
sonar dari kapal musuh. Saat kapal berada di permukaan baru diaktifkan
mesin disel, sekaligus tahap untuk proses re charging baterai.
Uji Coba Rudal
Persenjataan KRI Cakra terdiri dari 14 buat torpedo SUT (surface and
underwater torpedo) 21 inchi buatan AEG dalam delapan tabung. Torpedo
jenis ini dapat dikendalikan secara remote. KRI Cakra dan Nanggla juga
kerap digunakan untuk menunjang misi intelijen dan observasi. Dalam
beberapa kesempatan, kapal selam ini juga digunakan sebagai wahana
transportasi bagi pasukan katak. Seorang pasukan katak dapat dilontarkan
dari lubang tabung torpedo, sangat pas untuk misi infiltrasi.
KRI Cakra (401)
Keberadaan
kapal selam tak bisa dilepaskan dari fungsi periskop, KRI Cakra
mengandalkan periskop dengan lensa buatan carl zeiss. Sedang untuk
snorkel dibuat oleh Maschinenbau Gabler, keduanya merupakan pabrikan
asal Jerman. Secara teknis KRI Cakra memiliki berat selam 1,395 ton.
Dengan dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Sanggup mendorong
kapal hingga kecepatan 21,5 knot. Diawaki oleh 34 pelaut. Mampu menyelam
hingga kedalam 500 meter. Sonar yang digunakan adalah jenis CSU-3-2
suite.
Update Info KRI Nanggala-402
JAKARTA, KOMPAS.com — Kapal selam TNI AL, KRI
Nanggala-402, kembali memperkuat jajaran TNI AL. KRI Nanggala-402
telah selesai menjalani perbaikan dan perawatan total di galangan kapal
Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan.
Kedatangan
kapal selam kedua milik TNI AL ini disambut Kepala Staf TNI Angkatan
Laut Laksamana TNI Soeparno di Komando Armada RI Kawasan Timur,
Surabaya, Jawa Timur, Senin (6/2/2012).
Sebelum merapat, KRI
Nanggala-402 melintas di perairan Selat Madura di depan Dermaga
Koarmatim. Para anak buah kapal melaksanakan parade rool guna memberi
penghormatan. Dari dermaga, Korps Musik Lantamal V mengiringi dengan
lagu ”Hymne Hiu Kencana” yang dinyanyikan oleh anggota TNI AL dari
Satuan Kapal Selam Koarmatim.
Guna menjalani overhaul,
KRI Nanggala-402, yang dikomandani Letkol Laut (P) Purwanto, dengan 35
awak kapal bertolak dari Tanah Air pada 9 Desember 2009 dan tiba di
Korea Selatan pada 19 Desember 2009.
Saat ini kapal selam buatan
Jerman tahun 1978 yang bergabung di jajaran TNI AL pada 1981 tersebut
telah menjalani perbaikan secara menyeluruh, fisik, navigasi, serta
sistem persenjataan.
KRI Nanggala-402 yang mengambil nama dari
senjata pewayangan Nanggala dibuat oleh pabrikan Howaldtswerke, Kiel,
Jerman, tahun 1981 tipe U-209/1300. Kapal yang merupakan salah satu
kapal selam andalan Indonesia ini memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5
meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik, kapal
selam ini mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot.
Setelah overhaul,
KRI Nanggala-402 telah dilengkapi sonar teknologi terkini dengan
persenjataan mutakhir, antara lain, torpedo dan persenjataan lainnya.
Sebelum overhaul, KRI Nanggala-402 aktif melaksanakan sejumlah
misi penegakan kedaulatan, hukum, dan kemanan di laut, serta latihan
yang digelar TNI AL.
Pada latihan operasi laut gabungan, 8 April-2
Mei 2004, KRI Nanggala-402 menunjukkan kemampuan sebagai monster bawah
laut dengan menembakkan torpedo dan berhasil menenggelamkan KRI Rakata
yang dijadikan sebagai sasaran tembak pada latihan tersebut.
Selain KRI Nanggala-402, TNI AL juga sebelumnya telah meningkatkan kemampuan KRI Cakra-401 dengan melaksanakan overhaul di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering. Overhaul
KRI Cakra-401 selama bulan Mei 2004 hingga 13 Februari 2006 dengan
hasil optimal seperti layaknya kapal baru dengan kondisi awal mencapai
100 persen serta telah operasional hingga saat ini.
Kapal selam
merupakan senjata berdaya tangkal tinggi karena karakternya yang sulit
dideteksi dan mampu membawa berbagai jenis senjata, seperti torpedo,
ranjau, dan peluru kendali.
Bagi Indonesia, memiliki dan
mengoperasikan kapal selam akan memperkuat daya dan kekuatan tangkal.
Sejarah peperangan laut membuktikan bahwa hanya kapal selam yang mampu
masuk dan menembus jantung pertahanan lawan. Kapal selam juga dapat
menghancurkan center of gravity sebuah armada tempur, demikian juga sebaliknya dapat menjadi center of gravity angkatan laut.
Spesifikasi Teknis Kapal Selam Type 209
1100
1200
1300
1400
1500
Displacement (submerged)
1,207 t
1,285 t
1,390 t
1,586 t
1,810 t
Dimensions
54.1×6.2×5.9 m
55.9×6.3×5.5 m
59.5×6.2×5.5 m
61.2×6.25×5.5 m
64.4×6.5×6.2 m
Propulsion
Diesel-electric, 4 diesels, 1 shaft
5000 shp
6,100 shp (4,500 kW)
Speed (surface)
11 knots (20 km/h)
11.5 knots
Speed (submerged)
21.5 knots
22 knots
22.5 knots
Range (surface)
11,000 nmi (20,000 km) at 10 knots (20 km/h)
Range (snorkel)
8,000 nmi (15,000 km) at 10 knots (20 km/h)
Range (submerged)
400 nmi (700 km) at 4 knots (7 km/h)
Endurance
50 days
Maximum depth
500 m
Armament
8x 553 mm torpedo tubes
14 torpedoesOptional UGM-84 Harpoon integration
Daftar Kapal Selam TNI AL Yang Ada Dan Yang Akan Datang
No.
Nama kapal
Lambung
Status
Keterangan
1
KRI Cakra
401
masih bertugas
2
KRI Nanggala
402
masih bertugas
3
HDW Type 209/1400
0
dalam pesanan
Kapal Selam kelas changbogo dari korsel, Akan dikirim antara tahun 2015-2018
4
HDW Type 209/1400
0
dalam pesanan
Kapal Selam kelas changbogo dari korsel, Akan dikirim antara tahun 2015-2018
5
HDW Type 209/1400
0
dalam pesanan
Kapal Selam kelas changbogo dari korsel, Akan dikirim antara tahun 2015-2018
Beberapa waktu lalu indonesia mendapat kiriman tank baru untuk marinir. tank ini adalah tank amfibi buatan Rusia dengan kode BMP–3F.
kendaraan tempur ini adalah kendaraan lapis baja yang bisa dikatakan
sempurna dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini
(Pertempuran Asimetris).
Korps Marinir TNI AL mendapatkan 17 unit dan diharapkan dapat menambah kekuatan korps baret ungu ini. Kementrian
Pertahanan dan Keamanan membeli 17 senjata canggih itu dengan harga
50jt Dollar US atau Rp 455 Milliar. pada awalnya dana tersebut digunakan
untuk membeli 20 unit tank, tetapi karena melambungnya harga TNI hanya
dapat membeli 17 unit
Tank
amfibi BMP-3F merupakan kendaraan lapis baja terbaru produksi Rusia.
Kemampuan manuver laut tank ini mengalami penyempurnaan dibanding
generasi sebelumnya dengan penambahan snorkel, perbaikan tameng di kubah
untuk menahan ombak dan gelombang air laut agar tank tetap stabil
menuju serbuan pantai.
Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan
penggabungan dalam satu komponen (single-turet). Terdiri dari meriam,
peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan
mitraliur berkaliber 7,62 mm.
Penggabungan
ini memungkinkan prajurit awak tank dapat memilih model keperluan
penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi dan kondisi
serta medan tempur. Konstruksi (chasis) yang memungkinkan untuk
dimodernisasi, selain mudah perawatannya dan efisien pemeliharaannya
Bobot
BMP-3F kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan
tinggi 2,5 meter, kapasitas 10 prajurit yang terdiri dari 3 awak tank
dan 7 awak senjata. Kecepatan di medan air dan berlumpur 45 km/jam, 70
km/jam, di jalan raya 10 km/jam, dan mampu berjalan mundur dengan
kecepatan 20 km. Sedangkan kemampuan jelajah 600 km, di lumpur 12 km dan
daya jelajah di air 7 jam.
Modernisasi meriam pada ranpur berbasis BMP-3
Turet BMP-3F, sistem kontrol penembakan dapat dilakukan secara otomatis.
Profil Tank Amfibi BMP-3F
Sistem Kendali dan Persenjataan
BMP-3F
yang dipersenjatai meriam kaliber 100 mm dibuat untuk menembakkan
peluru/ roket non-kendali (shell), untuk kaliber ini biasanya masuk
dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar
250m/detik, roket dengan balistik sedang memberikan beberapa keunggulan
pada sitem kendali senjata persenjataan BMP–3F, diantaranya yaitu :
• Jarak jangkau ke sasaran darat/ laut lebih jauh, sehingga perluasan areal sasaran yang dapat dikenai/ dijangkau lebih baik.
• Mampu menembak melampaui gerak pasukan yang di turunkan (berfungsi sama seperti kemampuan PT-76 versi M)
• Pemakaian meriam berkaliber besar diimbangi dengan berat meriam yang lebih ringan
•
Kecepatan menembak tepat tidak tergantung dengan jarak kesasaran,
perhitungan gyroscope dapat diatur secara otomatis sehingga perhitungan
sudut kesalahan jatuhnya peluru dapat diminimalkan. (berfungsi sama
seperti kemampuan PT-76 versi M)
• Terdapat platform peluncur rudal
kendali anti tank (ATGM), baik yang diluncurkan langsung melalui laras
meriam (laser guided system) maupun yang terpasang pada badan panser.
diri dari dua bidang stabilisator dari pembidik kaca utama dan sebuah
sensor gyroscope
BMP-3F Fire Control System Components.
Sistim
pengontrol penembakan otomatis yang terdiri dari stabilisator senjata
alat pembidik, kombinasi dengan stabilisasi pembidikan dalam 2 bidang :
Azimut dan Elevasi (tinggi di atas permukaan laut) alat pengukur jarak/
lasser, alat pembidik komandan kendaraan, alat perhitungan lintasan
tembakan, alat pengumpul data. Sistem pengontrol penembakan
otomatis itu memberi kesempatan kepada satuan infantry melaksanakan
tugas taktis yang mereka hadapi (KSIT), penggunaan senjata secara
efisien dan memperlihatkan keunggulannya dibandingkan dengan system
pengontrol penembakan yang tidak otomatis.
Alat sistem pengontrol
penembakan otomatis BMP–3F mampu mempertimbangkan berbagai data
(diturunkannya atau dinaikannya alat pengontrol BMP-3F) untuk bidikan
tepat, oleh karena itu penembakan dari segala jenis senjata akan selalu
tepat.
Hasil
penembakan yang tepat sama ketika BMP–3 digunakan di pegunungan atau
menembaki sasaran udara seperti helicopter yang terbang hover/terbang
diam.
Untuk menembak dengan roket kendali atau peluru berkaliber 100 mm
dan peluru berkaliber 30 mm hanya perlu ditekan satu kenop, fungsi
pembidik tidak berubah sambil menembak dari segala jenis senjata,
amunisi bagi meriam mesin berkaliber 30 mm dan mitaliur (kal 76,2mm)
dimasukkan ke dalam "pitaban" peluru yang tidak putus-putusnya dan dapat
digunakan lagi tanpa diisi kembali, peluru fragmentation/ asap dan
brisan/pecah berkaliber 100 mm terletak di dalam otomat pengisian yang
memungkinkan menembak 10 peluru/menit.
Kekhususan prinsipil yang utama BMP–3 F,
yaitu bahwa seksi motor transmisi ditempatkan di bagian belakang badan
BMP – 3 F dan di bagian depan badan BMP–3 F dipasang tiga mitraliur PKT
dan PKTM serta ditempatkan seksi pasukan infantri pendarat karena itu efisiensi tembakan sepanjang arah gerakan BMP – 3 F jadi meningkat.